
"Apa yang salah dari dandelion kecil yang tiap saat bisa kau terbangkan?" tanya Delion pada angin. "Ia juga bunga yang senang jika dipuja. Meski warnanya seperti pudar dimakan musim."
Dandelion belumlah jadi dandelion jika ia masih punya mahkota. Dandelion yang sebenarnya adalah ia yang sudah menyembulkan biji-bijinya. Siap terbang bersama angin, atau jika tak beruntung, dipetik manusia dan ditiup dengan iringan nafas dari mulut manusia.
"Apakah dandelion bisa ber elegi?" tanya Delion lagi kepada angin. Angin menjawabnya lewat desahannya yang membuat daun-daun berdesir. Bagi Delion, desiran itu tak ada bedanya dengan elegi. Terdengar begitu nelangsa, meski ia lebih suka mengendus udara dengan hidungnya daripada mendengar dengan telinga. Dia tak begitu mempercayai telinganya karena kadang telinganya suka membohonginya dengan suara-suara fiktif.
Dandelion sebenarnya tak ber elegi. Meski ia sepertinya terlalu pasrah. Tapi justru itulah cara dia untuk menghidupkan dandelion-dandelion yang lain.
Delion masih melanjutkan prtanyaan-pertanyaan kepada angin. Karena dianggapnya anginlah yang paling dekat dengan dandelion. Anginlah yang membuat dandelion terlihat begitu lembut. Sekaligus langsung mengandaskan dandelion yang telah kering setelah melewati masa hidupnya untuk memperjuangkan muncul-munculnya biji-biji anemokori
.

Dan Delion pun bernyanyi, nyanyian yang diterbangkan angin, meski hanya ia dan angin itu saja yang bisa paham. Juga Dandelion yang dicintainya.

2 komentar:
terlalu cinta pada dandelion.....
.keren
nih
Posting Komentar